Bangladesh, Minggu (11/10) mengatakan pihaknya mengirim pasukan tambahan ke perbatasan dengan Myanmar karena Yangon meningkatkan kekuatan militer di sepanjang perbatasan 320km, sebagian dekat Sungai Naf.
Para pejabat senior militer mengatakan Bangladesh mengirim tiga brigade angkatan darat ke perbatasan tenggaranya setelah Myanmar menggelar kontingen-kontingen angkatan darat reguler baru bersama dengan pasukan perbatasan Nasaka, dan menambah arileri.
“Mereka tampaknya terus meningkatkan pasukan,” kata Letkol Azam dari Tentara Nasional Bangladesh (penjaga perbatasan) di Naikhyangchhari, kamp perbatasan paramiliter.
“Tetapi kami mengharapkan penambahan pasukan itu tidak akan meningkat dalam baku tembak,” katanya kepada Reuters di distrik perbatasan Cox’Bazar.
Para pejabat intelijen mengatakan Myanmar telah membuka kembali sebuah lapangan terbang militer yang lama tidak digunakan di Sittowe (Akyab) dekat perbatasan itu, dan memugar satu lapangan terbang lainnya. Sebuah surat kabar terkemuka Bangladesh, Jugantar menyiarkan foto-foto, Minggu menunjukkan pesawat di pangkalan Sittowe dan pasukan dalam kendaraan-kendaraan lapis baja bergerak ke perbatasan itu.
Para pejabat mengatakan, Minggu (11/10), mereka mengawasi dengan cermat situasi di dalam perbatasan Myamar. “Kami melihat ada gerakan-gerakan pasukan dan mobil-mobil lapis baja yang tidak normal di dalam perbatasan mereka tetapi kami tidak tahu untuk apa itu dilakukan,” kata Kolonel Didadrul Alam dari Angkatan darat Bangladesh, di kota pelabuhan Chittagong.
Sumber-sumber keamanan mengatakan Myanmar juga memasang pagar kawat berduri di sepanjang perbatasannya dengan Bangladesh agaknya untuk mencegah arus pengungsi Muslim memasuki Bangladesh.
Tetapi para pejabat militer dan sipil mengatakan tidak ada perintah membangun kembali pangkalan-pangkalan udara atau mengirim ribuan tentara reguler. Lebih dari 21.000 pengungsi Rohingya yang Muslim dari Myanmar barat dalam dua kamp Bangladesh tetapi lebih banyak yang telah berbaur dengan penduduk lokal sejak arus pengungsi besar tahun 1992, kata para pejabat lokal dan PBB.
Lebih dari 250.000 warga Rohingya memasuki Bangladeh pada saat itu untuk menghindari penyiksaan junta militer Myanmar tetapi sebagian besar dipulangkan dalam setahun oleh Badan Pengungsi PBB (UNHCR). Sisanya menolak pulang.
Pertikaian perbatasan terjadi secara sporadis antara dua negara itu dan kadang-kadang terjadi bentrokan senjata kecil, tetapi itu biasanya tidak meningkat. Hubungan antara Bangladesh dan Myanmar memburuk setelah Yangon mulai mengekplorasi minyak dan gas di satu daerah yang disengketakan di Teluk Benggala Oktober tahun lalu, walaupun Dhaka menentang tindakan itu.
Kedua negara mengerahkan kapal-kapal angkatan laut di tengah-tengah ketegangan meningkat yang mereda setelah diplomasi yang giat, kususnya oleh China, sahabat kedua negara itu.
Lokasi-lokasi yang disengketakan juga diklaim India. Bangladesh ingin pengakuan kepemilikan itu diselesaikan melalui arbitrasi PBB.
Bangladesh bulan lalu memutuskan akan memberikan kontrak kepada dua perusahaan asing–ConocoPhillips yang berpusat di AS dan Tullow Oil Irlandia– untuk melakukan penyelidikan gas dan minyak di tiga blok lepas pantai.
Sumber : Media Indonesia
